Kingdon181 Cyber Area

Minggu, 27 Mei 2012

LIMA PRASASTI DI MUSEUM BALAPUTERA DEWA PALEMBANG

DM. Sutan Zainuddin, S.S

Oleh: DM. Sutan Zainuddin, S.S

Prasasti adalah sumber sejarah dari masa lampau yang ditulis pada batu, logam, gerabah, kayu, batubata, porselin, dan lontar. Prasasti disebut sebagai sumber sejarah karena tulisan pada prasasti biasanya memuat informasi tentang berbagai hal, diantaranya ancaman atau sumpah kutukan, ekspensi, dll. Selain itu informasi yang terkandung dalam prasasti merupakan salah satu sumber yang menggambarkan kondisi masyarakat atau kerajaan pada zamannya.

Indonesia memiliki banyak sekali prasasti. Hal itu tidaklah aneh karena Indonesia merupakan daerah kepulauan yang pada masa lampaunya terdiri dari banyak kerajaan-kerajaan besar dan kecil. Misalnya Kerajan Kutai di pulau Kalimantan, Majapahit di pulau Jawa, Sriwijaya di Sumatera, Ternate dan Tidore di Maluku, dan banyak lagi kerajaan-kerajaan lainnya. Namun demikian tidak semua prasasti dari kerajaan tersebut dapat ditemukan oleh para ahli arkeologi dan ahli historiologi. Kemungkinan secara sederhananya, mungkin tidak semua kerajaan yang pernah ada di Indonesia memiliki prasasti atau para arkeolog dan sejarahwan yang belum berhasil menemukan prasasti-prasasti tersebut. Lainnya, tentu saja kerajaan-kerajaan yang ada setelah manusia mengenal kertas sangat kecil kemungkinan membuat prasasti.

Dari beberapa prasasti yang telah ditemukan oleh para arkeolog dan sejarahwan, diantaranya adalah prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya. Ada lima prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya, yaitu Prasasti Telaga Batu, Prasasti Kedukan Bukit, Prasasti Talang Tuo, Prasasti Kota Kapur, dan Prasasti Boom Baru.

Prasasti Telaga Batu ditemukan di Desa Telaga Batu Kecamatan Ilir Timur Pelembang Sumatera Selatan. Prasasti tersebut tidak memiliki angka tahun tetapi ditulis menggunakan huruf Palawa dengan bahasa Melayu Kuno. Tulisan-tulisan pada Prasasti Telaga Batu terdiri dari 28 baris yang memuat informasi tentang kutukan terhadap siapa saja yang tidak taat kepada pemerintah (raja). Selain itu, juga menjelaskan susunan ketatanegaraan Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di Desa Kedukan Bukit, di tepi Sungai Tatang (anak Sungai Musi), tepatnya di kaki Bukit Seguntang. Prasasti tersebut berangka tahun 605 saka / 683 M. Prasasti Kedukan Bukit ditulis menggunakan huruf Palawa yang berbahasa Melayu Kuno. Terdiri dari 10 baris yang berisi tentang Jaya Siddhayatra (perjalanan suci) penguasa Kerajaan Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang. Perjalanan itu merupakan ekspedisi militer Kerajaan Sriwijaya.

Prasasti Talang Tuo ditemukan di Desa Talang Tuo, Palembang. Berangka tahun 606 saka / 684 M dan ditulis menggunakan huruf Palawa yang berbahasa Melayu Kuno. Tulisan prasasti yang terdiri dari 14 baris itu berisikan pernyataan tentang pembangunan Taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang Srijayanasa.

Prasasti Kota Kapur ditemukan di Desa Kota Kapur, Bangka, Sumatera Selatan. Prasasti tersebut berangka tahun 608 saka / 686 M. Prasasti yang juga ditulis menggunakan huruf Palawa dengan bahasa Melayu Kuno itu terdiri dari 10 baris yang memuat informasi tentang sumpah kutukan dan upaya ekspansi ke Pulau Jawa.

Prasasti Boom Baru ditemukan di Desa Boom Baru, Palembang, Sumatera Selatan. Sampai saat ini prasasti yang terdiri dari 11 baris itu masih belum berhasil dibaca sehingga informasi yang terkandung dalam prasasti tersebut belum bisa diketahui.

Jika kita amati, lima prasasti tersebut dinamakan sesuai dengan nama daerah tempat ditemukan. Padahal pada zamannya, saat prasasti itu dibuat, mungkin saja prasasti-prasasti tersebut memiliki sebutan yang berbeda. Akan tetapi, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar karena rentang waktu (temporal) antara prasasti itu dibuat dengan saat ditemukan sangat panjang sekali.

Lima prasasti tersebut dapat anda temui di Museum Balaputera Dewa Palembang, tepatnya di Gedung Pameran II. Hanya saja yang anda jumpai di Museum Balaputera Dewa itu adalah replikanya saja karena prasasti yang asli berada di Museum Nasional Jakarta.

Demikianlah lima prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang telah ditemukan. Walau belum masih ada prasasti yang belum berhasil dibaca tetapi keberadaan prasasti-prasasti tersebut telah menjadi penguat alasan untuk menjadikan Palembang, sampai saat ini, sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya. Namun demikian, berbicara mengenai sejarah klasik biasanya selalu memunculkan kemungkinan-kemungkinan sehingga jika ditemukan informasi (fakta) terbaru tentu saja akan mungkin melahirkan kesimpulan yang berbeda atau malah akan makin menguatkan kesimpulan yang terdahulu.(DMT)

Sabtu, 19 Mei 2012

MALU JO SOPAN NAN DIGERUS ZAMAN

 .
Oleh: DM. Sutan Zainuddin, S.S

Perlahan namun pasti rasa malu generasi muda di Ranah Minang terus digerus oleh zaman. Kondisi tersebut jelas menimbulkan rasa prihatin ditengah-tengah masyarakat. Hanya saja rasa prihatin masih terbatas semata-mata pada rasa prihatin saja. Padahal semestinya, hal yang menimbulkan rasa prihatin tersebut harus diminimalisir dengan tindakan. Tindakan perorangan jelas lemah dan tak akan mampu memberikan efek luas. Sementara tindakan kelompok akan berpotensi memunculkan konflik yang ujung-ujungnya kelompok pejuang kebenaran dikalahkan dengan tudingan melanggar Hak Asasi Manusia alias HAM. Bahkan kebijakan pemerintah dalam rangka menjaga eksistensi rasa malu pada generasi muda sekalipun masih bisa digugat dengan alasan melanggar HAM.

Beberapa hari nan lalu, ketika saya pulang kampung dan berkunjung ke rumah amak (ibu), saya bertemu dengan mamak (panggilan di Minangkabau kepada saudara laki-laki ibu). Ia bercerita tentang pengalamannya berkunjung ke Kota Padang. Awal ceritanya hanya komentar tentang perkembangan Kota Padang pasca genpa 30 September 2009. Kemudian berlanjut pada cerita tentang apa yang ia rasakan ketika berkunjung ke salah satu obyek wisata di Kota Padang yakni Pantai Padang.

Ia menuturkan bahwa ketika mengunjungi Pantai Padang ia sengaja singgah di warung dengan tenda-tenda ceper. Dalam fikirannya lokasi tersebut sangat cocok dan nyaman untuk melepas penat sambil menikmati suasana jingga senja di Pantai Padang. Saat hendak memesan minuman, rasa nyamannya mulai terganggu karena daftar menu makanan dan minuman tidak mencantumkan harga sehingga ia sebagai konsumen tentu sulit menakar batas harga yang akan dibayar. Agar tidak tertipu maka ia harus menanyakan dulu harga makanan dan minuman sebelum memesan.

Sembari menunggu pesanan datang, si Mamak saya itu melepaskan pandang pada laut dan menikmati ombak yang berkejaran menuju pantai. Ia begitu bebas menikmati suasana pantai karena beberapa tenda yang ada disekitar ia duduk masih kosong. Tak lama berselang datang serombongan muda-mudi, agaknya mereka juga ingin menikmati jingga senja yang memang cukup bagus saat itu. Awalnya si Mamak tidak begitu peduli dengan rombongan muda-mudi tersebut. Ia terus saja menikmati suasana laut pantai barat sumatera. Namun sesaat kemudian rombongan muda-mudi mulai mengambil tempat bersama pasangan masing-masing. Dan, tanpa menghiraukan sekelilingnya mereka mulai memadu kasih, tanpa peduli status mereka yang belum muhrim. Tanpa risih mereka berpelukan, padahal beberapa orang yang melihat tingkah mereka saja merasa sangat risih, apalagi si Mamak saya itu adalah orang yang mengerti aturan adat meski pun telah lama berdomisili di rantau.

Terlintas niat untuk menegur muda-mudi tersebut, namun setelah berfikir-fikir si Mamak lebih memilih menyampaikan kepada pemilik warung karena tentu akan lebih pas jika si pemilik warung yang menegur. Namun ternyata si pemilik warung pun tak berani menegur.

"Kami kan harus menghormati konsumen pak," ujar pemilik warung.

Mendapatkan jawaban tersebut si Mamak hanya tersenyum.

"Saya kan juga konsumen, apakah tidak pantas dihargai?" sindir si Mamak.

"Hal yang begitu sudah biasa disini pak. Selama ini tidak ada yang komplain selain Bapak."

"Sudah biasa..?!"

"Iya, sudah biasa."

Si Mamak pun mengalah. Ia membayar makanan dan minuman yang tadi dipesan. Lantas berlalu meninggalkan lokasi obyek wisata yang telah memberikan satu catatan baginya.

Perlahan sore pulang dan senja pun menjelang. Sang Surya mulai menyelami laut ufuk barat dan terang pun  berganti remang. Jingga masih tersisa dan rombongan muda-mudi nan duduk berpasangan-pasangan makin asyik dalam aktifitas masing-masing. Mereka lupa diri bahkan lupa akan waktu sholat maghrib

"Tidak Mamak kira ternyata generasi muda di Ranah Minang telah tak punya malu jo sopan lagi. Pantas negeri awak dilanda gempa besar," kata si Mamak mengungkapkan rasa prihatinnya kepada saya.

Dikisahkannya, bahwa pada zaman dia muda dulu jangankan bergandengan tangan dan berpelukan dengan perempuan yang bukan muhrim, berpegangan tangan dan berpelukan dengan istri sendiri pun tak akan berani dilakukan seseorang didepan umum. Ada rasa malu nan menyesak di dada, malu pada diri sendiri, malu pada keluarga, lebih-lebih rasa malu kepada masyarakat. Dan, sanksi sosial dari masyarakat akan membuat si pelaku merasa terasing dan ujung-ujungnya terpaksa lari dari kampung, terusir ke rantau.

***

Sepenggal pengalaman si Mamak memberikan gambaran bahwa rasa malu jo sopan dikalangan anak muda di Ranah Minang memang telah sangat memprihatinkan. Secara perlahan, prilaku yang pada masa dahulu sangat tabu sekarang menjadi biasa. Ya.. pola pembiasaan ini yang lama-kelamaan melunturkan tatanan moralitas dalam masyarakat Minangkabau. Misalnya, dahulu gadis Minangkabau selalu berbaju longgar karena yang memakai baju ketat biasanya identik dengan wanita tidak bermoral bahkan identik dengan pelacur. Pada tataran ini, masyarakat masih tidak menerima dan merasa malu jika anak gadisnya memakai pakaian seperti itu.

Saat mudik lebaran, keluarga yang ada di rantau pun pulang dengan pakaian khas kotanya. Pakaian mereka tentu saja tidak lagi sesuai dengan yang dipakai oleh orang kampung. Keberadaan mereka dengan pakaian tersebut tidak tertolak, bahkan itu menjadi salah satu simbol kesuksesan mereka di rantau. Maka secara perlahan gadis Minangkabau pun mulai mengenal berbagai jenis mode pakaian. Selain itu, ada semacam paradigma dalam masyarakat yang bermukim di kampung bahwa segala yang berbau kota adalah simbol modernisasi. Sederhananya, jika ingin dikatakan modern maka pakai dan konsumsilah apa-apa yang dipakai dan konsumsi oleh orang kota. Dan, tentu saja paradigma nan salah inilah menjadi pemicu sebuah perubahan dalam kebiasaan di Ranah Minang. Paradigma tersebut membuat masyarakat Minangkabau mulai terbiasa, dan ketika anak gadis mereka memakai pakaian yang dulunya tabu mereka tidak lagi melarang meski juga tidak menyarankan.

Pada tahap selanjutnya, pembiasaan makin menjadi-jadi. Generasi muda yang telah tumbuh dan berkembang dalam proses pembiasaan awal tentu akan menjadi generasi tua. Mereka ini tentunya akan memperparah proses pembiasaan tersebut. Jika awalnya yang mengikuti dan menjadi obyek pembiasaan adalah generasi muda, maka pada tahap ini generasi tua pun mulai terseret arus pembiasaan. Generasi tua pada tahap ini ikut menjadi pelaku pembiasaan dan secara tidak langsung menjadi contoh bagi generasi muda. Maka makin menjadi-jadilah proses pembiasaan yang merusak tatanan nilai-nilai moral dan etika.
***
Fakta di lapangan, situs www.harianhaluan.com memberitakan 62 wanita ditangkap saat razia yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja di Kota Padang dan Bukittinggi pada Kamis (17/5/2012). 52 wanita malam dijaring di Kota Padang dan 10 orang wanita malam di Bukittinggi. Wanita-wanita tersebut dijaring diberbagai lokasi seperti tempat hiburan malan, obyek wisata, bahkan rumah kost. Namun demikian, aksi razia belum mampu memberikan unsur jera karena sanksi yang didapatkan paling-paling sekedar membuat surat perjanjian dan kemudian wanita-wanita tersebut kembali dilepas. Agaknya Perda Pekat perlu dikaji ulang untuk memperkuat sanksi terhadap mereka nan melanggar. Selain itu, memperkuat sistem nilai dalam keluarga dan lingkungan pun dapat menjadi solusi dalam meminimalisir borok di wajah Ranah Minang.

Berdasarkan kondisi tersebut, tentu kita jadi bertanya-tanya, sesungguhnya ada apa dengan masyarakat Negeri Bagonjong ini? Apakah tatanan norma adat Minangkabau benar-benar sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi kekinian? Lantas akankah kita biarkan saja malu jo sopan tetap digerus zaman untuk membuktikan apakah yang terjadi dimasa depan adalah kehancuran atau kemajuan? Semua tentu berpulang kepada masyarakat Ranah Minang itu sendiri. Memang, sakali aia gadang sakali tapian barubah. Akan tetapi sebuah perubahan tentunya harus lebih baik dari masa sebelumnya. (dmt)

Rabu, 02 Mei 2012

JELAJAH RANAH MINANG BERSAMA GUWO WISATA

www.guwowisata.wordpress.com

GuwoNews, Padang (02/05) - Ranah Minang merupakan julukan daerah yang saat ini masuk dalam cakupan Propinsi Sumatera Barat. Meski saat ini Minangkabau identik dengan Sumatera Barat, sesungguhnya wilayah Minangkabau jauh lebih luas dibanding wilayah Sumatera Barat sekarang. 

Ranah Minang mayoritas dihuni oleh etnis Minangkabau atau lazim juga disebut "urang minang". Salah satu keunikan etnis Minangkabau dibanding etnis lain yang ada di Indonesia adalah pola kekerabatannya yang menganut sistem kekerabatan matrilinial yakni sistem kekerabatan yang garis keturunannya berdasarkan garis ibu. Hal tersebut menjadi semakin unik karena urang minang juga identik sebagai penganut Islam yang taat padahal Islam lebih cenderung kepada patrilinial atau keturunan berdasarkan garis ayah/bapak. Namun itulah Ranah Minang dengan ragam keunikan yang terkandung di dalamnya.

Keunikan Ranah Minang pun tak hanya sebatas budaya saja melainkan juga ada keunikan lainnya yang dikemas oleh CV. Guwo menjadi objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Objek wisata tersebut terdiri dari Objek Wisata Sejarah dan Budaya, Objek Wisata Alam, dan Objek Wisata Kuliner. Objek wisata sejarah akan membawa wisatawan ke daerah-daerah yang menjadi saksi bisu sejarah perrjalanan bangsa Indonesia, maupun daerah bersejarah dalam skala lokal. Mengunjungi objek wisata sejarah sesungguhnya sangat penting dilakukan karena ia merupakan rekaman memori kolektif bangsa secara nasional maupun secara kedaerahan/lokal. Objek wisata sejarah Ranah Minang tersebar di kabupaten dan kota yang ada di wilayah Sumatera Barat. (Bersambung...?)

Selasa, 08 November 2011

Qurban Tak Sekedar Bagi-bagi Daging

.

Oleh: DM. Sutan Zainuddin, S.S

Hari Raya Idul Adha sering disebut sebagai Hari Raya Qurban. Selain itu, ada pula yang menyebutnya dengan Hari Raya Haji. Ragam sebutan untuk Hari Raya Idul Adha itu lebih didasai oleh rangkaian kegiatan yang ada menjelang dan sesudah pelaksanaan Shalat Idul Adha.

Sebutan sebagai Hari Raya Qurban oleh masyarakat didasari adanya kegiatan penyembelihan hewan qurban usai dilaksanakannya Shalat Idul Adha secara berjamaah. Pelaksanaan penyembelihan hewan qurban sesungguhnya merujuk pada apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS bersama dengan anaknya Nabi Ismail AS. Nabi Ibrahim AS yang pada awalnya sangat mendambakan seorang anak sebagai penerus perjuangannya menegakkan agama tauhid memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai anak. Dan, Allah SWT mwngabulkan doa Nabi Ibrahim AS dengan lahirnya Nabi Ismail AS. Namun, ketika Nabi Ismail AS telah beranjak remaja, Allah SWT mwnguji keimanan dan kesabaran Nabi Ibrahim AS dengan perintah menmyembelih Nabi Ismail AS sebagai qurban. Awalnya Nabi Ibrahim AS merasa ragu dengan perintah nan datang lewat mimpi itu karena ia berfikir mungkin saja itu godaan Iblis laknatullah. Namun setelah mimpi itu datang berulang, baru Nabi Ibrahim AS yakin dan segera mempersiapkan diri untuk menyampaikannya kepada Nabi Ismail AS.

Sebagaimana yang termaktub dalam QS. As-Saaffat ayat 102.
Ibrahim berkata: "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah bagaimana pendapatmu!"
Ismail menjawab: "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."

Dahsyat memang keimanan dua makhluk Allah SWT tersebut. Begitu taatnya mereka terhadap perintah Allah SWT sehingga tanpa keraguan mereka siap melakukan apa saja termasuk mengorbankan nyawa demi mewujudkan perintah Allah SWT. Nabi Ibrahim AS mencontohkan sosok seorang ayah nan tegar dan demokratis. Setelah bertahun-tahun menunggu kehadiran seorang anak, begitu dikaruniai anak ia pun diperintahkan mengorbankan anaknya. Dan, ia membuktikan bahwa cintanya pada anak tidak akan pernah melebihi cintanya pada Tuhannya. Nabi Ibrahim AS sepenuhnya sadar bahwa anak yang dikaruniakan kepadanya adalah milik Allah SWT nan dititipkan padanya sehingga ketika Sang Pemilik meminta milikNya tak ada alasan untuk menolaknya.

Nabi Ismail AS menjadi contoh sosok seorang anak nan sangat taat dan berbakti pada orang tua. Demi memenuhi perintah Allah SWT ia merelakan dirinya untuk disembelih sebagai qurban oleh ayahnya. Jawabannya begitu mantap kepada ayahnya. Jawaban nan mencerminkan sosok remaja idaman setiap keluarga. Remaja tangguh dengan keimanan, ketaatan, dan kesabaran yang tak terbanding.

Allah SWT hanya menguji ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kedua Nabi Allah tersebut lulus dalam ujian. Nabi Ismail AS yang telah berbaring dengan ikhlas untuk disembelih diganti Allah SWT dengan seekor kibas yang besar. Dan hal inilah yang dilaksanakan kaum Muslimin di dunia setiap merayakan Hari Raya Idul Adha.

Sebutan lain Hari Raya Idul Adha adalah Hari Raya Haji. Ini tentu terkait dengan adanya kegiatan Naik Haji ke Makkah sebagai perwujudan rukun Islam. Kegiatan Naik Haji ini juga merupakan bagian dari rangkaian kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Apapun sebutan terhadap Hari Raya Idul Adha, nan jelas bagi masyarakat miskin Hari Raya Idul Adha adalah masa-masa memakan daging kambing atau sapi gratis. Namun demikian, penyembelihan hewan qurban hendaknya tidak hanya menjadi rutinitas serimonial spritual dan bagi-bagi daging qurban semata tetapi hendaknya memberi perubahan dan dampak positif bagi yang melakukan dan menerima qurban. Jika tidak akan seperti Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS paling tidak mendekati kepribadian dan ketaatan dua sosok teladan tersebut sehingga memberikan dampak terhadap keluarga dan masyarakat di lingkungan tempat bermukim. Idul Adha, sesungguhnya memiliki dua makna yakni Habluminallah dan Hablumninanas. Kedua makna ini nan harus kita wujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Semoga.

Minggu, 09 Oktober 2011

Makna Dalam Sebuah Cerita Usang

.

Oleh: DM. Sutan Zainuddin, S.S

Seminggu yang lalu, ketika saya menuju Kota Padang, penumpang travel yang duduk di sebelah saya mengobrol disepanjang perjalanan dengan anaknya. Mereka mengobrol tentang keseharian dan sesekali berkelakar tentang persoalan hidup yang harus dihadapi. Begitu akrab, dan obrolan mereka mengalir begitu saja seolah-olah tidak ada rahasia antara mereka. Bagi saya keakraban antara orang tua dan anak seperti itu tidaklah begitu istimewa, biasa saja, namun ketika saya melihat kondisi masyarakat dikekinian apa yang dilakukan si Bapak terhadap anaknya itu ternyata bisa dikatakan sebagai sesuatu nan langka. Sehingga, meski pada awalnya saya mengabaikan saja obrolan mereka, namun akhirnya fikiran saya tergelitik juga karena sesuatu yang sederhana yang dilakukan si Bapak pada anaknya itu menjadi luar biasa karena mengandung makna.

Memang, jika dilihat perkembangan prilaku masyarakat pada masa kekinian, baik masyarakat tua maupun generasi muda, menunjukkan gejala-gejala yang menjauh dari tata nilai masyarakat ketimuran nan memiliki nilai-nilai moral dan etika dalam keseharian. Hubungan antara para tetua dengan generasi mudanya seakan terpisah sehingga transfer nilai-nilai nan bersumber dari pengalaman hidup makin lama makin hilang. Nilai-nilai saling hormat-menghormati bisa dikatakan punah, dan sosok teladan yang berwibawa dan mampu menenangkan masyarakat pun entah dimana kini. Padahal untuk membangun generasi nan berkarakter tentu generasi itu harus mengetahui karakter lokal mereka itu sendiri.

Kini, memang sudah sangat jarang kita lihat orang tua yang begitu akrab bercerita dengan anaknya. Bercerita tentang pengalaman dengan tutur yang tidak menggurui namun dalam cerita itu terkandung berbagai nilai-nilai yang sangat berguna bagi si anak. Misal, ketika orang tua bercerita tentang bagaimana ia ketika kecil, pagi sekolah dan siangnya membantu orang tua di sawah, ladang, atau berdagang. Bagaimana ia bermain dan menciptakan sendiri mainan dari bahan-bahan yang ada di sekitar lingkungannya. Dalam cerita-cerita itu tentu terkandung sebuah nilai perjuangan dan pengorbanan dalam menjalani kehidupan. Dan, juga terselip nilai kreatifitas, tanggungjawab, serta hormat terhadap orang tua.

Jika dirunut persoalan perubahan tersebut tentu kita harus merunut pula peristiwa dari masa ke masa lengkap dengan semua perubahan yang terjadi pada tiap zaman. Dengan demikian, akan terlihat bagaimana proses perubahan karakter itu terjadi dan apa-apa saja yang menjadi faktor pemicunya. Benarkah perkembangan teknologi informasi yang telah sukses mentransfer nilai-nilai baru yang menggerogoti sistem nilai tradisional? Atau Sang Penjaga sistem nilai tradisional itu sendiri nan tak kuat menjaga karena gagap akan teknologi informasi sehingga tak tau bagaimana cara membendung derasnya gelombang modernisasi nan menghantam sistem nilai tradisional? Atau mungkin juga Sang Penjaga ikut larut dan terbuai oleh perubahan yang terjadi itu sehingga luntur wibawanya sebagai panutan dan hilang rasa segan anak kemenakan.

Membahas masalah sistem nilai tradisional, saya jadi teringat cerita nenek saya dahulu. Dulu, kata beliau, ada seorang kakek yang oleh masyarakat dikatakan sinting alias kurang waras. Kakek itu selalu mengatakan hal-hal yang tidak bisa diterima akal sehat pada waktu itu. Konon si Kakek selalu berjalan menginjit seakan takut akan menginjak duri atau pecahan kaca yang akan melukai telapak kakinya. Ketika ditanya mengapa ia berjalan seperti itu, ternyata si Kakek bukan takut telapak kakinya terluka namun takut terinjak anak iblis. Dan, tentu saja orang tak percaya.

Akan tetapi, kata nenek lagi, ternyata ada dua hal yang dikatakan si Kakek sinting menjadi kenyataan pada masa kini. Pertama,celoteh si Kakek yang mengatakan bahwa bumi akan memiliki ikat pinggang yang meliliti tubuhnya. Jika dilihat pada masa kini mungkin bisa dikatakan maksud si Kakek sinting adalah rel kereta api yang ada di berbagai negara di belahan bumi ini. Kedua, si Kakek sinting mengatakan bahwa nanti orang di kampung akan bisa melihat langsung kejadian yang terjadi diseluruh muka bumi tanpa berpergian bahkan bisa berbicara langsung dengan orang yang berada di tempat yang jauh. Hal yang kedua ini agaknya maksud si Kakek sinting adalah televisi dan telepon atau handphone.

Selain itu, lanjut nenek lagi, si Kakek sinting juga sering mengatakan bahwa jagalah anak-anak gadis kalian karena nanti malu jo sopan akan hilang sehingga banyak perempuan yang hobi telanjang. Hal yang terakhir ini pun tammpaknya juga telah terjadi pada masa kini. Jika dahulu perempuan banyak nan risih ketika memakai pakaian ketat yang membuat lekuk tubuh mereka terlihat dengan jelas, sekarang malah mereka bangga dengan pakaian seperti itu. Jangankan lekuk tubuh, mempertontontan betis dan paha pun mereka seakan bangga. Naudzubillahimindzalik.

Agaknya, jika si Kakek sinting hidup pada zaman sekarang belum tentu ia akan dikatakan sinting karena semua ucapannya bisa diterima akal sehat dan sesuai dengan kenyataan yang ada sekarang. Lantas, apa itu bermakna bahwa fikiran orang-orang yang hidup pada masa sekarang sesuai dengan kesintingan si Kakek pada masa dahulu. Atau, jagan-jangan sekarang semua orang telah sinting seperti si Kakek. Hehe.

Terlepas dari gurauan di atas, agaknya semua perubahan itu perlu disikapi. Saat ini, nan bisa dilakukan hanyalah memperkokoh pondasi keluarga masing-masing dengan sistem nilai karena generasi sekarang adalah cerminan dari generasi sebelumnya dan generasi nan akan datang adalah cerminan dari generasi sekarang. Rapuh generasi sekarang maka akan lebih rapuh lagi generasi nan akan datang karena generasi sekarang adalah calon pemimpin keluarga di masa datang. Jika sekarang kita kuatkan sistem nilai (nilai etika, moral, dan spritual) pada tiap-tiap keluarga maka akan menguatkan generasi nan akan datang. Semoga.

Kamis, 16 Desember 2010

Jakarta oh Jakarta

DM. Sutan Zainuddin, S.S
.
Oleh: DM. Sutan Zainuddin

Jakarta itu ibukota negara. Larut malam begini masih saja deru kendaraan mengaung. Memang mobilitas penghuni ibukota sangat tinggi. Dan, kemacetan adalah pokok persoalan nan entah kapan bisa tuntas oleh pemimpin Jakarta. Kota Padang, jika dibanding dengan Jakarta tentu tak sebanding. Lahan di Jakarta nan sesak oleh gedung bertingkat, jalanan nan sesak oleh kendaraan, serta pembangunan yang begitu meluas sampai pinggiran jelas belum ditemui di Padang. Meski Padang pada zaman VOC sempat menjadi metropolitannya pulau Sumatera. Namun dalam hal angkutan umum rasanya Padang tidak kalah. Angkutan umum di Padang jauh lebih bagus tampilannya dibanding dengan yang ada di Jakarta. Angkutan kota dan bus kota (metromini) di Jakarta akan kalah bersaing dengan angkot dan bus kota yang ada di Padang.

Angkot dan bus kota di Kota Padang nan dihias begitu rupa plus musiknya bagaikan diskotik berjalan. Tampilan angkot dan bus kota di Jakarta jelas belum pantas bersanding dengan angkot ceper Kota Padang. Andai angkot dan bus kota yang ada di Jakarta beroperasi di Kota Padang mungkin para sopirnya akan sulit mendapat setoran.

Namun demikian, plus minus tentu ada dari kondisi itu. Jika angkot dan bus kota di Jakarta seperti angkot dan bus kota di Padang sangat mungkin kejahatan di angkutan umum akan meningkat. Pasalnya, dentuman musik keras dan balutan kaca film yang menyelubungi kendaraan umum seperti di Padang akan memberikan keleluasaan bagi para pencopet dan perampok untuk beraksi. Dentuman musik akan menyamarkan teriakan mereka yang menjadi korban sementara kaca mobil nan ditempeli kaca film akan menutupi pandangan orang dari luar.

Ah, apa pun kondisinya Jakarta tetaplah ibukota negara tercinta ini. Berbagai dinamika telah terjadi dan berbagai perubahan terus berlangsung. Andai saja sesekali waktu para pemimpin negeri ini menggunakan angkutan umum seperti angkot dan bus kota untuk berangkat kerja tentu mereka akan paham bagaimana penderitaan rakyat. Para pemimpin itu tentu akan melihat langsung ragam aktivitas rakyatnya. Tak dapat kita pungkiri, segala kesulitan hidup itu seolah2 telah menjadi jatah rakyat sementara segala kemudahan dan kemewahan adalah milik pemimpin. Jika para pejabat tingkat tinggi di negeri ini jarang terlambat masuk kantor itu mah wajar karena perjalanan mereka selalu mulus dengan pengawalan. Perjuangan mereka menuju tempat kerja tidak seberat perjuangan bawahannya dan warga kota menuju tempat beraktifitas demi mencari nafkah untuk menghidupi keluarga mereka. (dmt)
Loading...

Dream Motorcycle

Dream Motorcycle
Suzuki

Amazing Motorcars

Sports Cars